Hadisukirno, Leather Work & Handicraft - Galery : Jl. S Parman 35 Yogyakarta - email: hadisukirno1@yahoo.com ; hadisukirno@gmail.com- Telp: 0274373427 - Fax : 0274373427

Artikel Terbaru
Artikel Populer
Kategori Artikel
Wayang Kulit Solo
Wayang Kulit Jogja
Wayang Golek
Wayang Klithik
Souvenir Kulit
Souvenir Kayu
Souvenir Keramik
Souvenir Logam
Souvenir Kain
Handicraft
Souvenir Custom
 
 

Gunungan (Kayon)

Gunungan yang pada awalnya disebut Kayon,dalam pewayangan melambangkan berbagai hal. Peraga wayang ini dapat dipakai untuk menggambarkan berbagai hal seperti gunung, pohon besar, api, ombak samudra, angin rebut, gua dll. Namun sebenarnya kayon atau gunungan melambangkan pohon kehidupan. Kalpataru yang bercabang delapan, sebagai lambang awal dan akhir. Karenanya, gunungan wayang juga membawakan lambang konsep mitos Jawa, sangkan paraning dumadi.

Pohon yang tergambar sebagai bentuk dasar gunungan wayang atau kayon itu adalah pohon Nagasari. Di berbagai keraton di Pulau Jawa, pohon Nagasari selain indah bentuknya, kuat kayunya, juga dianggap memabwa pengaruh baik bagi orang disekitarnya. Namun sebagai gambar yang membawakan perlambang, pohon pada gunungan melukiskan sejenis pohon yang hanya hidup di alam kahyangan, yakni Pohon Dewandaru. Pohon ini dianggap membawa pengaruh keabadian, kelanggengan.

Asal muasal gunungan dalam dunia pewayangan ada beberapa versi. Ada yang menyebutkan gunungan diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, pada zaman Demak. Ada lagi yang menyatakan gunungan sudah tergambar pada lembaran Wayang Beber yang dimainkan rakyat pada zaman Majapahit.

Bentuk dan seni kriya gunungan selalu berubah dari zaman ke zaman. Antara daerah satu dengan daerah lainnya juga terdapat perbedaaan bentuk. Gunungan pada Wayang Parwa Bali, misalnya, tidak runcing ujungnya seperti pada seni kriya gunungan Wayang Kulit Purwa di Surakarta dan Yogyakarta. Bentuk Gunungan pada Wayang Kulit Bali lebihrealistik menyerupai pohon sebenarnya, sedangkan gunungan Wayang Kulit Purwa di Pulai Jawa lebih distilir.

Pada 1737 Masehi, Susuhunan Paku Buwana II di Kartasura memerintahkan para seniman keraton untuk menciptakan bentuk seni kriya gunungan baru, yang memasukkan unsur gambar ‘gapuran’. Gunungan dengan gapuran ini diberi Candra Sengkala Gapura Lima Retuning Bumi, yang melambangkan angka tahun 1659 atau 1737 Masehi. Dalam perkembangan di dunia pewayangan, Gunungan Gapuran ini sering disebut Gunungan Lanangan (lelaki).

Bentuk Gunungan Gapuran itu sebagai berikut ; bentuk gambaran utama gunungan itu berupa gapura (gerbang) dengan lima pilar, seeekor harimau dan seekor banteng terdapat di latar belakang. Ini melambangkan konfrontasi abadi antara segala yang buruk dengan segala yang baik. Di latar depan, di sisi kiri dan kanan gapura itu terdapat dua raksasa penjaga pintu bersenjatakan gada dan perisai.

Selain gunungan Gapuran, dunia Wayang Kulit Purwa juga mengenal  beberapa jenis gunungan lain, yakni Gunungan Blumbang atau Gunungan Blumbangan atau Gunungan wadon (perempuan0. Gunungan Gapuran lebih ramping, lebih menampilkan kesan runcing dibandingkan dengan Gunungan Blumbangan.

Pada Gunungan Blumbangan terdapat gambar sepasang sayap, sepasang jlarang, yakni sejenis musang atau rase. Selain itu tergambar pula beberapa jenis binatang lainnya, diantaranya ular yang melilit di cabang pohon, burung hinggap di ranting merak dan monyet.

Fungsi Gunungan

Selain sebagai peraga gunung, pohon, gua, dll, gunungan jug amenjadi salah satu alat komunikasi antara dalang dengan penabuh gamelan yang mengiringinya. Seperti halnya kecerek dan cempala, gunungan jug aberungsi sebagai tanda aba-aba dalang kepada para penabuh gamelan, terutama pengendang dan penggendernya.

Misalnya ;

Ketika gamelan sedang berbunyi dengan irama sampak, dengan tempo tinggi, dan kemudian dalang mengangkat gunungan sambil memukul cempala sebanyak lima kali, berarti ia member komando agar iramanya diubah menjadi Ayak-ayakan.

Kalau seandainya dalang menancapkan gunungan dengan posisi miring ke kiri pada akhir gamelan pathet sanga, maka penabuh gender langsung siap untuk masuk ke irama pathet manyura.

Ragam Bentuk Gunungan

Selain Wayang Kulit Purwa, hampir semua wayang yang ada di Indonesia menggunakan gunungan atau kayon. Wayang Kulit Gedog, Wayang Golek Menak. Wayang Golek Ourwa Sunda mempunyai gunungan yang bentuknya agak serupa dengan gunungan Wayang Kulit Purwa.

Hanya Wayang Klithik atau Wayang Tengul yang bentuk gunungannya lain. Gunungan pada Wayang Klitik disebut Dadak Merak, bukan dari kulit binatang, melainkan menggunakan kayu serta bulu-bulu ekor merak.

Dalam fungsi yang relative sama, gunungan atau kayo nada beberapa macam bentuk. Beda bentuk antara gunungan yang satu dengan lainnya, bisa disebabkan oleh jenis wayang yang berbeda, bisa pula karena dibuat oleh seniman dari adaerah atau zaman yang berbeda.

Misalnya, pada Wayang Pancasila dan Wayang Suluh, yang pernah dipopulerkan sekitar tahun 1945 sampai 1950, diciptakan bentuk gunungan dengan pola dasar tatahan dan sunggingan gambar Garuda Pancasila, lambang negara RI. Pada Wayang Wahyu, sesuai fungsinya sebagai media penyebaran agama Katolik, gunungannya dibuat dengan pola dasar tatahan dan sunggingan yang menggambarkan salib. Ada pula gunungan Keluarga Berencana. Ada lagi Gunungan Zodiak, yang merupakan gunungan kreasi baru.

Sementara itu gunungan pada Wayang Kulit Parwa Bali, tidak sebesar pada Wayang Kulit Purwa Jawa. Gunungan atau kayon wayang Bali tidak runcing ujungnya, melainkan membuat seperti bentuk pohon sebenarnya. Senimn wayang terkenal, Sigit Sukasman-Pencipta Wayang Ukur dari YogyaKarta, juga menciptakan bentuk gunungan wayang yang berbeda dengan bentuk gunungan konvensional.

Sumber : Ensiklopedi Wayang Indonesia


Dibaca : 1992 Kali
Tanggal Posting : Selasa, 02 April 2013
Pengirim : Admin