Jl. Letjen S Parman 35 Yogyakarta -  Telp : 0274- 373427 -  WhatsApp : 082137955032;081333911533 - Pin BBM : 5A21C2F7 -Email : hadisukirno@gmail.com

Artikel Terbaru
Artikel Populer
Kategori Artikel
Wayang Kulit Solo
Wayang Kulit Jogja
Wayang Golek
Wayang Klithik
Souvenir Kulit
Souvenir Kayu
Souvenir Keramik
Souvenir Logam
Souvenir Kain
Handicraft
Souvenir Custom
Souvenir Fiber
Accesories
Souvenir Gelas
Souvenir Anyaman
Gamelan
Alat Musik Tradisional
Pakaian Adat - Tari
Koleksi Hadisukirno
 
 

Ramaparasu

Parasurama atau dalam pewayangan Jawa lebih dikenal dengan Ramaparasu atau Ramabargawa adalah seorang tokoh Ciranjiwin (hidup abadi) dalam ajaran agama Hindu. Ia dikenal sebagai awatara Wisnu yang keenam dan hidup di zaman Tretayuga. Secara harafiah Parashurama berarti “Rama yang bersenjata kapak”. Nama ini ia dapatkan karena ia selalu membawa kapak sebagai senjatanya. Ia juga dikenal sebagai Bhargawa yang bermakna “keturunan Mahararesi Bregu”.

Parasurama adalah putera Jamadagni, seorang resi keturunan Bregu dengan Renuka. Sewaktu ia lahir, ia diberi nama Rama. Setelah ia dewasa, ia lebih dikenal dengan Parasurama, hal ini karena ia selalu membawa kapak sebagai senjata. Selain kapak, Parasurama juga memiliki senjata lain yaitu busur panah yang luar biasa.

Dikisahkan suatu saat Jamadagni, ayah Parasurama marah kepada istrinya Renuka, karena Renuka membuat kesalahan saat melayani kebutuhan Jamadagni. Oleh Karena itu, Jamadagni meminta anak-anaknya untuk membunuh ibu mereka, dan menjanjikan akan mengabulkan semua permintaan mereka. Kelima putera Jamadagni, tidak ada yang sanggup melakukan perintah ayahnya tersebut, akhirnya karena marah, Jamadagni mengutuk mereka menjadi batu. Tinggal Parasurama yang menjadi harapan Jamadagni, Parasurama pun akhirnya bersedia melakukan perintah ayahnya tersebut. Ia membunuh ibunya sendiri, Renuka.

Sesuai janjinya,Jamadagni menanyakan apa yang menjadi permintaan anaknya itu. Parasurama meminta agar Jamadagni menghidupkan dan menerima Renuka kembali, serta mengembalikan kelima kakaknya ke  wujud manusia. Jamadagni merasa bangga dan akhirnya memenuhi semua permintaan Parasurama.

Pada zaman kehidupan Parasurama, ketenteraman dunia dikacaukan oleh ulah kaum ksatria yang suka berperang satu sama lain. Kebenciannya terhadap kaum ksatria semakin bertambah setelah, raja Kerajaan Hehaya yang bernama Kartawirya Arjuna merampas sapi milik Jamadagni. Parasurama marah dan membunuh raja tersebut. Namun kemudian anak-anak kartawirya Arjuna lalu membalas dendam dengan cara membunuh Jamadagni.  Parasurama pun bangkit untuk menumpas mereka. Tidak terhitung lagi berapa banyak ksatria yang tewas terkena kapak dan panah Prasurama. 

Ia dikisahkan sampai mengelilingi dunia sampai tiga kali demi menumpas para ksatria di seluruh bumi. Setelah merasa cukup, Parasurama pun megadakan upacara pengorbanan suci di tempat yang bernama Samantapancaka. Tempat itu pada zaman berikutnya, dikenal dengan nama Kurukhsetra dan dianggap sebagai tanah suci yang menjadi arena perang akbar antara Pandawa dan Korawa.

Dari sekian banyak ksatria yang telah ia bunuh, tetapi masih ada ksatria yang masih hidup,salah satunya adalah Wangsa Surya yang berkuasa di Ayodhya, kerajaan Kosala. Salah satu keturunan Wangsa adalah Sri Rama putera Dasarata.


Saat itu Rama berhasil memenangkan sayembara di kerajaan Mithila untuk memperebutkan Sita atau dalam pewayangan jawa lebih dikenal dengan Shinta. Rama berhasil mengangkat dan membentangkan busur  panah, pusaka pemberian Siwa, dan bahkan berhasil mematahkan pusaka yang maha dahsyat beratnya.

Kabar itu terdengar oleh Parasurama di pertapaannya, maka ia pun mencegat Rama ketika Ia memboyong Shinta ke Ayodhya. Namun dengan lembut hati, Rama berhasil menenangkan kemarahan Parasurama yang akhirnya kembali pulang ke pertapaannya. Pertemuan ini merupakan pertemuan sesama awatara Wisnu.

Pada Zaman Dwaparayuga, Wisnu terlahir kembali sebagai Kresna putera Basudewa. Karena Parasurama hidup sebagai Ciranjiwin, ia pun masih hidup abadi di bumi. Pada zaman itu Parasurama menjadi guru sepupu Kresna yaitu Karna yang menyamar menjadi seorang brahmana muda. Sebenarnya Karna berasal dari golongan ksatria tetapi karena demi mendapatkan ilmu dari Parasurama, akhirnya ia menyamar menjadi seorang brahmana.

Setelah mengajarkan berbagai ilmu kesaktian barulah Parasurama sadar bahwa Karna bukan dari golongan brahmana. Ramaparasu pun marah dan mengutuk karna, bahwa ia akan lupa terhadap semua ilmu kesaktian yang telah ia pelajari pada saat ia dalam keadaan terdesak dalam suatu pertempuran. Kutukan itu menjadi kenyataan, Karna lupa akan semua mantra dan ilmu yang ia pelajari dari Parasurma ketika, kereta perangnya terperosok ke dalam lumpur, sementara Arjuna sudah siap membidiknya dalam perang akbar di Kurukhsetra.

Dalam pewayangan Jawa, Parasurama lebih dikenal dengan sebutan Ramabargawa, atau sering juga dipanggil Jamadagni, sama dengan nama ayahnya.

Diceritakan bahwa Parasurama adalah keturunan Batara Surya bukan titisan Wisnu, ayahnya, Jamadagni adalah sepupu Kartawirya raja kerajaan Mahespati, yang merupakan ayah dari Arjunasasrabahu. Jamadagni juga masih memiliki ikatan persaudaraan dengan Resi Gotama ayah Subali dan Sugriwa.

Dalam pewayangan, berselingkuh dengan Citrarata raja kerajaan Martikawata.Mulai saat itulah, muncul kebencian Ramabargawa terhadap kaum ksatria.

Setelah merasa jenuh dan cukup menumpas kaum ksatria, ia memutuskan untuk meninggalkan dunia. Atas petunjuk dewata, ia akan mencapai surga, jika ia mati di tangan awatara Wisnu. 

Ramabargawa akhirnya bertemu dengan Arjuna Sasarabahu,salah satu awatara Wisnu. Saat itu, Arjuna Sasarabahu telah kehilangan semangat hidupnya setelah kematian istrinya Citrawati dan Sumantri, patihnya. BUkannya ia terbunuh oleh Arjuna Sasrabahu, tetapi justru ia yang membunuh Arjuna Sasrabahu.

Ramabargawa kecewa dan menuduh dewata telah berbohong. Turunlah Batara Narada dan menjelaskan bahwa Wisnu telah meninggalkan Arjuna Sasrabhu untuk terlahir kembali sebagai Rama, putera Dasarata. Ramabargawa diminta bersabar menunggu Rama hingga Dewasa, kelak ia yang akan membunuhnya mengantarkannya ke surga.

Keberhasilan Rama memenangkan sayembara di kerajaan Mantili untuk memperebutkan Sinta terdengar oleh Ramabargawa. Ia kemudian mencegat Rama di tengah perjalanan saat Rama akan memboyong Sinta ke Ayodya. 

Ramabargawa menantang Rama untuk bertarung. Dalam perang tanding tersebut, Ramabargawa akhirnya gugur di tangan Rama, dan naik kahyangan menjadi Dewa bergelar Batara Ramaparasu.

Pada zaman berikutnya, Ramaparasu bertemu dengan awatara Wisnu lainnya, yaitu kresna, yang saat itu sedang dalam perjalanan menjadi duta Pandawa ke Hastinapura. Bersama Batara Narada, Bathara Kanwa dan Batara Janaka, ia menghadang kereta Kresna ikut serta ke Hastinapura, mereka menjadi saksi perindungan dengan pihak Korawa. Selama hidupnya, Parasurama hanya memiliki tiga murid yakni, Bisma, Drona dan Karna.


Dibaca : 1070 Kali
Tanggal Posting :
Pengirim :