Jl. Letjen S Parman 35 Yogyakarta -  Telp : 0274- 373427 -  WhatsApp : 082137955032;081333911533 - Pin BBM : 5A21C2F7 -Email : hadisukirno@gmail.com

Artikel Terbaru
Artikel Populer
Kategori Artikel
Wayang Kulit Solo
Wayang Kulit Jogja
Wayang Golek
Wayang Klithik
Souvenir Kulit
Souvenir Kayu
Souvenir Keramik
Souvenir Logam
Souvenir Kain
Handicraft
Souvenir Custom
Souvenir Fiber
Accesories
Souvenir Gelas
Souvenir Anyaman
Gamelan
Alat Musik Tradisional
Pakaian Adat - Tari
Koleksi Hadisukirno
 
 

Gara-Gara

Gara-gara adalah bagian atau babak suatu pergelaran wayang, baik wayang kulit Purwa maupun wayang orang. Dalam bagian gara-gara, Ki Dalang menceritakan tentang keadaan dunia yang dilanda berbagai bencana alam yang meluas pengaruhnya sampai ke kahyangan. Setelah itu, ditampilkan adegan yang santai, lepas dari ketegangan alur cerita yang dilakonkan. Tokoh yang muncul dalam adegan itu adalah para Punakawan dan ksatria muda yang mereka iringi.

Pada bagian gara-gara ini, karena tindakan seseorang yang sedang bertapa atau mengalami kesedihan yang mendalam atau oleh sebab lain, keseimbangan bumi menjadi goncang. Dalam adegan gara-gara, dalang menceritakan tentang gunung-gunung yang meletus, tentang banjir dan badai, gempa bumi, kekacauan, kerusuhan dll, yang menyebabkan para dewa terpaksa turun tangan untuk meredakannya.

Keadaan gara-gara ini, dalam pergelaran wayan Kulit dilukiskan Ki Dalang dengan pocapan sebagai berikut .

“ Candrane gara-gara, bumi gonjang langit gumarang tangise bumi kalawan langit, tan ana bedane. Tangise bumi, sedina lindhu kaping wolu, jagad pada den tapeni nganti akeh para kawula kang tintrim. Ana ketiga dawa, lemah bengkah, bledug mangampak, panjerite sapi gumarang, asu ajag katon bisa nimbulaken pagebluk.

Sasirepipun kawontenan sinarengan jumedhulipun Panakawan ketiga catur Ki Lurah Semar kang putra sak nyatane ketiga sami gegujengan wonten ara-ara amba, yen kacandra kaya ratu rebut negara, kaya satria mbedhah keraton, mboyong wanita.” (Hadisugito dalam lakon Janaka Catur).


Terjemahannya kurang lebih seperti ini ; “ Gambaran gara-gara bumi bergetar, langit bergoyang dan suaara mengeluh, suatu hari terjadi gempa delapan kali, dunia diguncang sehingga menyebabkan semua umat manusia cemas dan ketakutan. Musim kemarau panjang, tanah merekah, berdebu, serta teriaknya sapi gumarang, serigala hutan menyebabkan terjadinya wabah penyakit.

Suasana menjadi reda bersamaan dengan munculnya panakawan, Gareng, Petruk, Bagong dan Semar. Ketiga anak Semar itu sedang bersenda gurau di tanah lapang, gambarannya seperti ksatria menyerang kerajaan dan memboyong putri.”


Adegan gara-gara pada wayang Kulit Purwa Gagrak Surakarta, pada tahun 1950-an sampai 1960-an, terbatas hanya pada lakon-lakon tertentu, misalnya lakon Mintaraga, Kresna Njaluk Kunci Swarga, Triwarna, dsb.

Keadaan ini berubah ketika pada sekitar tahun 1961 Ki Nartosabdo, dalang tenar dari Semarang, menampilkan adegan gara-gara ini pada setiap lakon yang ia mainkan. Ia juga memadukan gara-gara gaya Surakarta dengan gaya Yogyakarta, yang ternyata diterima oleh para penonton, sehingga dalang-dalang lain mengikutinya.

Pendek kata, gara-gara yang diikuti dengan munculnya para Panakawan, termasuk yang ditunggu-tunggu penonton. Pada saat itu para panakawan bertugas mengisi suasana antiklimaks dengan suasana lebih santai dan membangun keakraban dengan penonton. Pada saat itu pula, Ki Dalang berkesempatan menyampaikan pesan-pesannya, yang meliputi soal pendidikan, penerangan, propaganda dan kritik sosial. Tokoh Semar dalam adegan itu biasanya hanya sekali-kali mengambil peran. Karena pada umumnya Semar hanya tampil bicara untuk hal yang lebih serius.

Sejak tahun 1970-an terlihat adanya gejala mengalihkan fungsi banyolan sebelum gara-gara menjadi semacam masa istirahat bagi Ki Dalang –dengan cara mengisi waktu itu demikian rupa sehingga yang lebihbanyak berperan adalah para pesinden, sebagian besar waktu untuk gara-gara diisi dengan semacam, pilihan pendengar” bagi para penonton.

Dan sejak tahun 1990-an, adegan gara-gara oleh sebagian dalang juga digunakan untuk ‘acara lawak’ dengan menghadirkan tokoh pelawak yang sedang popular, misalnya Kirun, Timbul, Mamiek, dll. Bersama dengan tokoh-tokoh panawakan yang dibawakan oleh Ki Dalang, tokoh pelawak yang lazim disebut ‘bintang tamu’ itu ikut nimbrung dalam dialog Ki Dalang.

Dengan demikian, secara keseluruhan, pergelaran itu menjadi semacam gabungan pentas Wayang Kulit Purwa yang diselingi dengan acara lawak. Lawak dengan ‘bintang tamu’ itu seolah memutuskan dari alur emosi penonton dalam mengikuti jalannya cerita wayang yang dipergelarkan.

Sejalan dengan gejala ini, beberapa pesinden juga berusaha untuk ikut pula dalam dialog-dialog banyolan itu.

Gejala baru dengan mendatangkan ‘bintang tamu’ itu, terutama dilakukan oleh dalang-dalang gagrak Surakarta. Namun dalang yang berasal dari daerah Yogyakarta pada umumnya kurang setuju pada gejala ini. Ki timbul Hadiprayitnp Cermomanggolo, misalnya, adalah salah satu orang dalang yang tidak bersedia pentas bilamana Si penanggap menghendaki kehadiran bintang tamu.


sumber : Ensiklopedi Wayang Indonesia


Dibaca : 13571 Kali
Tanggal Posting :
Pengirim :