Jl. Letjen S Parman 35 Yogyakarta -  Telp : 0274- 373427 -  WhatsApp : 082137955032;081333911533 - Pin BBM : 5A21C2F7 -Email : hadisukirno@gmail.com

Artikel Terbaru
Artikel Populer
Kategori Artikel
Wayang Kulit Solo
Wayang Kulit Jogja
Wayang Golek
Wayang Klithik
Souvenir Kulit
Souvenir Kayu
Souvenir Keramik
Souvenir Logam
Souvenir Kain
Handicraft
Souvenir Custom
Souvenir Fiber
Accesories
Souvenir Gelas
Souvenir Anyaman
Gamelan
Alat Musik Tradisional
Pakaian Adat - Tari
Koleksi Hadisukirno
 
 

Hidung Wayang

Dalam seni Kriya Wayang Kulit Purwa, mewakili karakter tokoh wayang yang ditampilkan. Karenanya, bentuk hidung dalam pewayangan juga ada beberapa macam. Menurut pakem seni Kriya Wayang Kulit Purwa gaya Yogyakarta bentuk hidung peraga wayang ada tujuh macam.

  1. Walimiring, agak serupa dengan bentuk ujung pisau dapur, diperuntukkan bagi tokh wayang yang bertubuh kecil dan tokoh putri.
  2. Bentulan, mirip dengan bentuk pangot atau ujung golok. Dinamakan bentulan, karena bentuk itu menyerupai bentul atau buah soka. Tokoh Wayang yang berhidung bentulan diantaranya Duryudana, Gandamana dan Kartamarma.
  3. Wungkal Gerang atau Mungkal Gerang, yang mirip dengan batu asahan yang telah lama terpakai, biasanya dikombinasikan dengan jenis mata plelengan. Garis atas permukaan hidung merupakan garis cekung. Tokoh wayang yang berhidung wungkal Gerang diantaranya adalah Dasamuka, Durmuka dan Indrajit.
  4. Pelokan, yang menyerupai potongan biji mangga, digunakan oleh hampir semua tokoh raksasa dalam pewayangan. Misalnya, Kumbakarna, Suratimantra dan Prabu Arimba.
  5. Pesekan, bentuk hidung yang tidak mancung. Hampir semua tokoh kera dalam pewayangan menggunakan bentuk hidung pesekan, Diantaranya, Resi Subali, Prabu Sugriwa dan Anoman.
  6. Terongan, atau Terong Glatik, hanya sedikit digunakan dalam pewayangan. Diantaranya tokoh yang berhidung terongan adalah Nala Gareng dan Buta Terong.
  7. Telale atau Belali, dalam pewayangan hanya digunakan pada tokoh-tokoh tertentu, yaitu Batara Ganesa, Kala Diradasura dan Prabu Getah Banjaran.


Agak berbeda dengan gaya Yogyakarta, seni kriya Wayang Kulit Purwa gaya Surakarta membagi bentuk hidung atas sebelas macam, yaitu :

  1. Walimiring hampir serupa dengan bentuk ukung pisau dapur, diperuntukkan bagi tokoh-tokoh wayang yang bertubuh kecil atau tokoh putri.
  2. Bentulan mirip dengan bentuk pangot atau ujun golok. Dinamakan bentulan karena bentuk itu menyerupai bentul atau buah soka. Tokoh wayang yang berhidung bentulan diantaranya Duryudana, gandamana dan Kartamarma.
  3. Pangotan, bentuknya menyerupai pangot yakni pisau perut yang biasanya digunakan untuk mengukit kayu. Tokoh wayang yang berhidung pangotan diantaranya Indrajid dan Kangsa.
  4. Pelokan yang menyerupai potongan biji mangga, digunakan oleh hampir semua tokoh raksasa dalam pewayangan. Misalnya Kumbakarna, Suratimantra dan Prabu Arimba.
  5. Bruton, bentuknya menyerupai brutu atau tempat tumbuhnya bulu ekor ayam. Bentuk hidung semacam ini dimiliki antara lain oleh Bagong dan Batara Patuk.
  6. Sumpel, menggambarkan bentuk hidung yang melesak masuk ke dalam, sehingga tidak mempunyai tonjolan hidup, seperti bentuk hidung pada tokoh Semar dan Limbuk.
  7. Terong glatik seperti hidung Gareng, sama dengan bentuk hidung pembagian versi Yogyakarta .
  8. Cempaluk, bentuk hidung yang dimiliki Petruk.
  9. Terong, Kopek, berbentuk bulat agak menggantung, seperti yang dimiliki Buta terong.
  10. Pisekan, sama dengan hidung pesekan menurut pembagian hidung versi Yogyakarta.
  11. Nyantik Palwa atau Nyantik Prau, antara lain digunakan untuk bentuk hidung Kumbakarna, Niwatakawaca, dan Batara Kala.


Bentuk hidung wayang, yang merupakan salah satu komponen raut wajah wayang, juga digunakan untuk membantu memperkuat karakter tokoh wayang yang bersangkutan.

Hidung walimiring misalnya, digunakan untuk menampilkan karakter tokohwayang yang tenang dan lembut. Hidung bentulan, menggambarkan tokoh yang tegas, spontan dan kadang kala agak kasar.


sumber : Ensiklopedi Wayang Indonesia


Dibaca : 4438 Kali
Tanggal Posting :
Pengirim :