Dewa Ruci yang dalam pewayangan dilukiskan tubuhnya hanya sebesar kelingking Bima, dijumpai ksatria Pandawa bertubuh tinggi besar itu di Teleng samodra, atau pusat samudra. Dalam pewayangan, yakni pada lakon Dewa Ruci atau Nawaruci, walau tubuhnya sekecil itu, telinganya dapat dimasuki oleh Bima yang bertubuh tinggi besar. Di dalam tubuh Dewa Ruci, Bima merasa dapat menyaksikan matahari, bulan dan jagad raya. Di situlah Bima mendapatkan wejangan kerohanian mengenai apa sebenarnya arti hidup dan hakikat kehidupan. Dewi kerdil itu juga dikenal dengan Dewa Bajang atau Sang Marbudingrat.
Para peminat Wayang Purwa di Indonesia menilai, lakon Dewa Ruci sepenuhnya menceritakan perlambang manusia yang mencari pribadinya, mencari kebenaran sejati.
Lakon ini saat dengan filsafat dan konsep religi khas Jawa. Dewa Ruci dianggap sebagai perlambang dari pribadai Bima yang sesungguhnya, yang dalam pewayangan diistilahkan dengan sejatining pribadi itulah sebabnya tokoh Dewa Ruci hanya muncul seagai pemeran utama dalam satu lakon saja. Meskipun demikian, dalam berbagai lakon yang menyangkut Bima, nama Dewa Ruci kadang kala juga disebut-sebut.
Di sebagian masyarakat jawa, Dewa Ruci sering dianggap sebagai lambang hati nurani yang ada pada setiap manusia. Dengan adanya nurani, maka manusia dapat menimbang mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah.
Sebagian dalang yang beragama Islam, terkadang juga memasukkan bagian-bagian ajarang Islam dalam wejangannya yang disampaikan Dewa Ruci pada Bima. Di antaranya tentang kelengkapan rukun islam terutama tentanfg syahadat.
Tokoh Dewa Ruci tidak terdapat dalam kitab Mahabarata, karena lakon carangan ini merupakan pelajaran filsafat khas Jawa, yang dikarang oleh para Budayawan kita dulu. Jadi , Dewa Ruci merupakan tokoh khas pewayangan. Itulah sebabnya, tidak jelas mengenai siapa orang tuan atau asal usul Dewa Bujang itu.