Jl. Letjen S Parman 35 Yogyakarta -  Telp : 0274- 373427 -  WhatsApp : 082137955032;081333911533 - Pin BBM : 5A21C2F7 -Email : hadisukirno@gmail.com

Artikel Terbaru
Artikel Populer
Kategori Artikel
Wayang Kulit Solo
Wayang Kulit Jogja
Wayang Golek
Wayang Klithik
Souvenir Kulit
Souvenir Kayu
Souvenir Keramik
Souvenir Logam
Souvenir Kain
Handicraft
Souvenir Custom
Souvenir Fiber
Accesories
Souvenir Gelas
Souvenir Anyaman
Gamelan
Alat Musik Tradisional
Pakaian Adat - Tari
Koleksi Hadisukirno
 
 

Gelar Perang Dalam Pewayangan

Gelar perang dalam pewayangan adalah susunan atau bentuk formasi pasukan yang digelar dalam suatu peperangan. Meskipun sebenarnya gelar perang dapat digunakan dalam segala jenis peperangan, tetapi gelar dalam pewayangan hanya dianggap penting bilamana perang itu adalah perang besar yang melibatkan ratusan ribu atau jutaaan prajurit, seperti Baratatayuda.

Baratayuda adalah perang besar, bahkan terbesar dalam pewayangan. Menurut Mahabarata, perang antara dua keluarga keturunan Barata itu melibatkan tidak kurang dari empat juta manusia.

Baratayuda berlangsung selama 18 hari. Selama perang itu, susunan formasi pasukan atau gelar perang yang diterapkan, berganti-ganti. Pergantian gelar perang itu disesuaikan dengan strategi umum yang hendak diterapkan pada hari itu, dan tujuan apa yang hendak dicapai. Bahkan pernah pula dalam satu hari, pasukan Kurawa menerapkan dua gelar perang yakni pada hari-13 Baratayuda..

Pada mulanya, Kurawa menggelar formasi Diradameta atau Gajah Mengamuk. Namun , kemudian secara mendadak Kurawa mengubah  gelar perangnya menjadi Cakrabhuya atau Roda Berputar. Siasat perang yang direncanakan Begawan Drona ini berhasil. Dan pada hari itu, Abimanyu, putera kesayangan Arjuna gugur.

Gelar perang yang terkenal dalam dunia pewayangan diantaranya adalah :

1. Supit Urang atau Capit Urang.

Formasi perang ini berbentuk mirip udang dengan capit siap meenerkam. Pada barisan Kurawa, Basukarna menempati posisi kepala, Patih Sengkuni di ujung capit kiri dan Kartamarma di ujung capit kanan sebagai pelaksana serangan dengan sasaran menjepit pasukan musuh. Duryudana menempati posisi tubuh udang sebagai pengatur serangan. Dibagian ekor udang ditempatkan Burisrawa, putera Prabu Salya.

Para  barisan Pandawa, ketika menggelar formasi Supit Urang, Abimanyu menempati posisi  kepala udang sebagai pendobrak barisan musuh, Drestajumena di capit kanan, Gatotkaca di capit kiri, selaku pelaksana serangan dengan sasaran menjepit barisan musuh. Setyaki, Yudhistira, Nakula dan Sadewa berada di bagian tubuh udang dan berfungsi sebagai pengatur serangan.

2. Wulan Tumanggal

Formasi berbentuk bulan sabit, hanya digunakan oleh Pandawa. Pada gelar perang ini, Arjuna ditempatkan di tengah, sebagai pelaksana serangan, didampingi Prabu Kresna.

Yudhistira didampingi Nakula dan Sadewa di bagian punggung bulan sebagai pengatur serangan,sedangkan Bima di ujung kanan  dan Setyaki di ujung kiri bertindak sebagai penjepit barisan musuh.

3. Garuda Nglayang

Gelar perang ini memiliki sifat menyerang sangat agresif, sehingga seluruh prajurit harus bergerak cepat. Arah gerakan pasukan dikendalikan oleh pengatur serangan.

Senapati yang ditempatkan di posisi paruh berfungsi rangkap, yakni sebagai pendobrak sekaligus pengatur serangan.

Pada pasukan Pandawa, Arjuna menempati posisi paruh sebagai pendobrak dan penyerang. Prabu Kresna di belakangnya selaku pendamping. Prabu Drupada di kepala, sedangkan Yudhistira yang didampingi Nakula dan Sadewa ditempatkan di tubuh.

Drestajumena ditempatkan di sayap kanan, sedangkan Bima di sayap kiri, berfungsi sebagai pembantu penyerangan. Di ujung ekor ditempatkan Setyaki.

Sementara itu, ketika diterapkan oleh Kurawa, yang menempati posisi paruh adalah Prabu Salya selaku penggempur. Patih Sengkuni di posisi kepala selaku pengatur serangan, Duryudana di tubuh. Begawan Durna di sayap kanan, sedangkan Bisma di sayap kiri sebagai pembantu penyerangan. Di bagian ekor ditempatkan Dursasana.

4. Dirada Meta atau Gajah Mengamuk

Dalam Baratayuda hanya digunakan oleh pasukan Kurawa. Pada gelar perang ini, Bogadenta yang geraknya lincah dan tak kenal lelah ditempatkan di posisi belalai sedangkan bagian pendobrak yang mengacaukan barisan musuh. Bomawikata dan Wikataboma pada bagian gading kiri dan kanan sebagai penyerang. Begawan Drona menempati posisi kepala gajah dan berlaku sebagai pengatur serangan, sedangkan Prabu Anom Duryudana yang diapit Basukarna dan Jayadrata berada pada tubuh gajah.

5. Brajatiksna atau Halilintar Menyambar

Dalam Baratayudha hanya digunakan oleh pasukan Pandawa saja. Kurawa tidak menggunkannya, karena Brajatiksna memerlukan tokoh pendobrak yang handal. Pada gelar perang yang memerlukan kelincahan gerak ini, Bima menempati ujung depan, bertugas mendobrak barisan musuh dan memporak-porandakan formasinya. Dibelakangnya. Arjuna didampingi oleh Dewi Srikandi, bertindak sebagai pelaksana serangan. Di bahu kanan ditempatkan Drustajumena, sedangkan di bahu kiri Setyaki alias Singa Mulangjaya.

Resi Seta menempati posisi punggung, sedanggkan Yudhistira yang didampingi Prabu Kresna berada di belakangnya sebagai pengatur serangan. Di belakang, ada Nakula dan Sadewa sebagai pengawal Yudhistira.

6. Makarabhuya atau Udang Karang

Gelar perang ini digunakan oleh pasukan Pandawa maupun Korawa. Pada gelar perang ini, pasukan berjajar rapat, geraknya lambat tetapi sulit dibendung. Gelar perang Makarabhuya lambat dalam menyerang, tetapi tangguh dalam pertahanan.

Pihak pasukan Pandawa, Bima dan Drestajumena menempati posisi kanan dan kiri depan, selaku pendobrak dan pelaksana serangan. Arjuna didampingi Prabu Kresna ditempatkan agak ditengah selaku pengatur serangan.

Sedangkan pada pihak Kurawa, Duryudana menempati posisi paling depan, dan bertugas sebagai pendobrak dan pelaksana serangan. Jayadrata didampingi Kartamarma menempati bagian belakang.

7. Cakrabhuya atau Roda Berputar

Ini adalah gelar perang yang bertujuan untuk merusak formasi barisan musuh, sekaligus untuk menjebak tokoh lawan yang diincar. Pada gelar perang ini, seluruh prajurit berjalan berputar ke arah kiri dan kanan sesuai dengan perintah sang senapati perang.

Tokoh lawan yang diincar mulanya dibiarkan masuk menuju barisan, setelah itu dikepung oleh para prajurit yang terus berlari memutar . Gelar perang inilah yang digunakan oleh Kurawa untuk menjebak Abimanyu, hingga akhirnya gugur di medan perang.

 

sumber : Ensiklopedi Wayang Indonesia


Dibaca : 2780 Kali
Tanggal Posting :
Pengirim :