Jl. Letjen S Parman 35 Yogyakarta -  Telp : 0274- 373427 -  WhatsApp : 082137955032;081333911533 - Pin BBM : 5A21C2F7 -Email : hadisukirno@gmail.com

Artikel Terbaru
Artikel Populer
Kategori Artikel
Wayang Kulit Solo
Wayang Kulit Jogja
Wayang Golek
Wayang Klithik
Souvenir Kulit
Souvenir Kayu
Souvenir Keramik
Souvenir Logam
Souvenir Kain
Handicraft
Souvenir Custom
Souvenir Fiber
Accesories
Souvenir Gelas
Souvenir Anyaman
Gamelan
Alat Musik Tradisional
Pakaian Adat - Tari
Koleksi Hadisukirno
 
 

Kelahiran Gatotkaca

Gatotkaca adalah seorang tokoh dalam wiracarita Mahabarata, putra dari Bima dari keluarga Pandawa, ibunya bernama Arimbi, dari golongan bangsa raksasa. Kelahirannya disambut dengan penuh suka cita , karena Gatotkaca merupakan generasi penerus kerajaan Pringgandani, jika Dewi Arimbi telah tiada.

Saat kelahiran Gatotkaca seluruh putra pandawa disertai Batara Kresna serta seluruh Punakawan berkumpul di Istana Pringgandani untuk menyambut kelahiran sang bayi. Tidak lama berselang, terdengarlah tangisan bayi yang menggetarkan seantero Pringgandani, semuanya menarik nafas panjang, pertanda lega karena bayi laki-laki telah lahir dalam keadaan sehat, begitu pula ibunya. Satu persatu dari mereka mengucapkan selamat pada Bima atas kelahiran putranya. 

Selang beberapa waktu kemudian, Bima menjenguk istri dan anaknya kedalam kamar. dia sangat bahagia namun ada suatu kejanggalan yang terjadi pada bayinya yaitu ari-ari bayi masih menempel dan belum putus, setelah ditanyakan pada embannya, ternyata ari-ari memang belum bisa dilepaskan, segala upaya telah dicoba untuk memotong tali ari-ari tersebut, namun upaya yang dilakukan selalu gagal dan tidak ada senjata yang bisa memotong ari-ari Jabang Tetuko.

Mendengar penuturan embannya, Bima menjadi gusar dan meminta bantuan dari saudara-saudaranya untuk memotong tali ari-ari anaknya yang diberi nama Jabang Tutuka. Upaya pemotongan tali ari-ari Jabang Tetuka diawali oleh Bima dengan menggunakan kuku pancanaka guna memotong tali ari-ari anaknya yang kemudian dilanjutkan oleh Arjuna yang mencoba untuk memotong tali ari-ari dengan menggunakan berbagai macam senjata miliknya yang diawali dengan keris Pancaroba, keris Kalandah, panah Sarotama bahkan hingga menggunakan panah Pasopati, namun semua upaya yang dilakukan oleh Arjuna gagal.

Sri Batara Kresna yang saat itu hadir juga terheran-heran lalu beliaupun menawarkan diri untuk mencoba memotong tali ari-ari dengan menggunakan senjata saktinya Cakra Udaksana, namun ternyata hanya menghasilkan percikan percikan api . semua yang hadir tampak semakin heran. Sedangkan Dewi Arimbi hanya bisa menangis karena mengkhawatirkan keadaan anaknya yang hingga dewasa harus membawa ari-arinya.

Ditengah keheranan serta kekhawatiran yang merundung, tanpa disadari telah datang Begawan Abiyasa yang merupakan kakek dari Pandawa serta Buyut dari Gatotkaca, setelah menyadari kehadiran Begawan Abiyasa, semua yang hadir menghaturkan sembah sungkem padanya. Begawan Abiyasa mengatakan bahwa ari-ari sang bayi akan bisa dipotong hanya dengan senjata yang berasal dari Batara guru. Untuk mendapatkan senjata tersebut, maka Begawan Abiyasa mengutus Arjuna untuk pergi ke Kahyangan mencari senjata yang dimaksud oleh Begawan Abiyasa, sedangkan Begawan Abiyasa bergegas kembali ke Padepokan setelah memberikan do’a untuk buyutnya.

Sesampainya Arjuna di  Kahyangan, Batara Guru memerintahkan Batara Narada untuk memberikan Panah Kontawijayadanu  kepada Arjuna untuk memotong ari-ari Jabang Tetuka, namun dengan syarat bahwa bayi tersebut harus menjadi panglima perang menghadapi Naga Percona. Namun saat memberikan senjata tersebut Batara Narada memberikan pada orang yang salah, karena senjata tersebut diberikan kepada Karna yang dikiranya adalah Arjuna karena paras serta perawakan Karna benar-benar mirip dengan Arjuna, selain itu Karna juga mengeluarkan cahaya disekitarnya yang membuat Batara Narada kesilauan dan tidak melihat dengan jelas sehingga orang yang diberikan senjata tersebut bukanlah Arjuna, melainkan Karna.

Setelah mendapatkan senjata, Karnapun lalu pergi tanpa mengucapkan terimakasih, hingga akhirnya Batara Narada menyadari bahwa senjata telah diberikan kepada orang yang salah. Batara Narada menceritakan kejadian itu pada Arjuna dengan menyesal dan meminta Arjuna untuk mengejar Karna, untuk mendapatkan kembali Panah Kontawijayadanu. Awalnya Arjuna meminta dengan baik-baik, namun Karna tidak mau memberikan Panah Kontawijayadanu  tersebut, hingga akhirnya terjadilah perang tanding untuk mendapatkan senjata tersebut, setelah selang beberapa waktu, akhirnya Arjuna mendapatkan Sarung dari senjata tersebut dan Karna mendapatkan gagangnya. Dengan berat hati akhirnya Arjuna kembali kepada rombongan yang kemudian dilanjutkan kembali ke Pringgandani. 

Setibanya Arjuna beserta rombongan di kerajaan, Arjuna lalu menyerahkan sarung dari  Panah Kontawijayadanu  guna memotong tali ari-ari Jabang Tetuko, dan anehnya tali ari-aripun putus. Setelah tali ari-ari berhasil dipotong Arjuna hendak membawa Jabang Tetuko ke Kahyangan untuk memenuhi janji bahwa Jabang Tetuko akan dijadikan panglima perang menghadapi Naga Percona. 


Dibaca : 1846 Kali
Tanggal Posting :
Pengirim :