Hadisukirno, Leather Work & Handicraft - Galery : Jl. Letjen S Parman 35 Yogyakarta - email: hadisukirno1@yahoo.com ; hadisukirno@gmail.com- Telp: 0274-373427 - SMS : 0274-8518812

Artikel Terbaru
Artikel Populer
Kategori Artikel
Wayang Kulit Solo
Wayang Kulit Jogja
Wayang Golek
Wayang Klithik
Souvenir Kulit
Souvenir Kayu
Souvenir Keramik
Souvenir Logam
Souvenir Kain
Handicraft
Souvenir Custom
Souvenir Fiber
Accesories
Souvenir Gelas
Souvenir Anyaman
 
 

Lakon Carangan

Lakon carangan atau biasa disebut juga cerita carangan adalah lakon wayang yang keluar dari jalur pakem (standar) kisah Mahabarata atau Ramayana. Namun, para pemeran dan tempat-tempat dalam cerita carangan itu tetap menggunakan tokoh-tokoh wayang Purwa yang berdasar Mahabarata atau Ramayana seperti biasanya. Biasanya cerita carangan semacam ini dilakukan untuk memenuhi pesanan dari pihak yang nanggap atau untuk misi penerangan pemerintah.

Sebagaian ahli wayang berpendapat bahwa sebaiknya tidak diadakan pemisahan antara lakon wayang yang pakem dan yang carangan. Alasannya, sebenarnya semua lakon wayang adalah karangan manusia. Sebuah lakon yang semula dianggap sebagai carangan bisa saja menjadi baku atau pakem, bilamana cerita atau lakon itu ternyata diterima masyarakat sehingga sering dipertunjukkan.

ASKI, Akademi Seni Karawitan Indonesia sebuah lembaga pendidikan kesenian di Surakarta pernah mengadakan penelitian dan pengumpulan data mengenai lakon carangan ini. Pada bulan Oktober 1988, ASKI diubah statusnya menjadi STSI atau Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Surakarta.

Lakon carangan yang sudah terlalu jauh keluar dari jalur pakem, biasanya disebut lakon Sempalan. Selain itu dalang wayang purwa dikenal juga adanya lakon banjaran, yakni lakon yang khusus digubah oleh Ki Dalang tentang riwayat hidup lengkap (biografi) seorang tokoh wayang.

Di antara tema lakon carangan, yang terbanyak adalah yang menyangkut hidup perkawinan Arjuna dengan Subadra. Biasanya ceritanya berkisar pada peristiwa, karena Arjuna pergi bertapa, banyak pihak yang mengambil alih istri Arjuna itu. Cerita yang temanya demikian diantaranya adalah lakon Sindusena, Cekel Endralaya, Sidajati-Sidalamong,dsb.

Cukup banyak lakon carangan kuna yang kurang sesuai dengan selera masyarakat penonton, akhirnya juga punah, tidak lagi dipergelarkan orang. Misalnya, beberapa lakon carangan yang menyangkut tokoh Bima, Bima Kacep, Bima Tulak dan Bima Medamel.

Pada lakon-lakon itu diceritakan tentang Bima yang berbuat selingkuh dengan Dewi Uma, tentang BIma yang bertelanjang berkeliling sawah dengan alat kelamin memancarkan sinar terang dan Bima yang menanam ketan gondil agar dapat menurunkan raja-raja di tanah Jawa.

Tema cerita lakon-lakon itu tidak sesuai dengan imajinasi masyarakat terhadap Bima, sehingga tidak diminati.

Lakon Carangan di Surakarta

Lakon carangan yang beredar di daerah Surakarta dapat digolongkan menjadi tujuh golongan yakni:

  • Lampahan Raben (cerita perkawianan) contohnya : Lakon Rabinipun Dursasana (perkawinan Dursasana); Lampahan Rabinipun Wisanggeni (perkawinan Wisanggeni) dan sebagainya.
  • Lampahan Wahyon (cerita wahyu) contohnya : Wahyu Pancadarma; wahyu Tri Marga Jaya. Wahyu Widayat Pitu, wahyu Triwibawa dan sebagainya.
  • Lampahan Malih-malihan (cerita perubahan wujud)contohnya : Lakon Doraweca; Jayeng Katong; Sambar Warangka, Suryadadari; Peksi Mas Merak; Rasatali, Talirasa dan sebagainya.
  • Lampahan Lahir-lahiran ( cerita kelahiran ) contohnya : : Lakon lahiripun Danankusuma, lahiripun Danasalira, Lahiripun Petruk dan sebagainya.
  • Lampahan Murcan  (cerita menghilang) contohnya : Lakon Partawarayang; Jaka Brongsong, Turanggajati, jongke Asmara Cipta dan sebagainya.
  • Lampahan lucon (cerita humor) contohnya : lakon Petruk Kelangan Petel; Gareng Tetak; Bagong Dadi Ratu; Kresnadenta; Dareng Dadi Ratu dan sebagainya.
  • Lampahan Wejangan (cerita tentang mistik) contohnya: Lakon Senalodra; Gatotkaca dados Guru; Pandawa Pitu;  Arjuna Pitu; Arjuna Pingit; Mayangkara dan sebagainya.


Prof Dr. Soetarno salah seorang pengamat budaya wayang dari Surakarta mengatakan bahwa seluruh lakon wayang kulit gaya Surakarta dapat dibagi ke dalam dua bagian, yakni lakon pokok dan lakon carangan. Lakon carangan dibagi menjadi tiga kategori yaitu ; lakon carangan kadapur, lakon carangan dan lakon sempalan.

1. Lakon pokok juga disebut lakon dapur, lakon jejer atau lakon lugu; menggambarkan cerita versi tradisional seperti yang dibawakan dalam Ramayana dan Mahabarata. Contohnya lakon Pandu Lahir.

2. Lakon Carangan tokoh-tokohnya mengambil dari lakon pokok; tetapi alur ceritanya sama sekali dibuat baru. Pada umumnya lakon-lakon tersebut disusun oleh para ahli pewayangan atau seniman dalang dan mempunyai fungsi pedagois dan kadang-kadang memuat kritik sosial atau ajaran spiritual.

Lakon Carangan dapat dibedakan dalam tiga kategori yaitu :

  • Lakon Carangan Kadapur yang masih ada hubungannya dengan lakon pokok, berpegang pada tema yang sama dan menggunakan silsihan tokoh-tokoh yang sama. Jenis lakon ini kurang lebih sifatnya seperti lakon-lakon pokok. Contohnya lakon Jaladara Rabi, menceritakan perkawainan antara Kakrasana dengan Dewi Erawati. Lakon Utara dan Wratsangka Krama, menceritakan pemunculan lagi para Pandawa di Wirata setelah mengalami pembuangan selama dua belas tahun.
  • Lakon carangan adalah suatu cerita yang tidak ada sambungannya lagi dengan lakon-lakon pokok, dan ini benar-benar merupakan ciptaan baru. Contohnya lakon Dasa Warna, yang menceritakan Petruk menjadi raja di tanah sabrang, Lakon Mustakaweni, yang menceritakan perkawinan antara Priyambada putra Arjuna dengan Mustakaweni.
  • Lakon Sempalan adalah jenis lakon yang mengambil tokoh utamanya sama dengan lakon pokok, tetapi temanya dirubah. Contohnya lakon Pregiwa Pregiwati yang menceritakan Endang Pregiwa dan Pregiwati mencari ayahnya dan pertemuan mereka dengan Gatotkaca, putra Bima. Lakon Gatotkaca Sungging yang mengisahkan perkawinan antara Gatotkaca dengan Dewi Dahanawati, anak Prabu Dahanamukti dari kerajaan Dahanapura. Lakon Swarga Bandang, yang mengisahkan Srikandi Menyamar sebagai penari untuk mencari Arjuna di Swarga Bandang; lakon Dewa Ruci, menceritakan pertemuan Bima dan Dewa Ruci atau Bima mencari Tirta Pawitra (air kehidupan).


Tradisi pedalangan Surakarta juga terdapat jenis lakon pasemin (sindiran) atau gambaran terhadap peristiwa pada zaman kerajaan di Jawa. Lakon-lakon itu antara lain; Lakon Swarga Bandang yang dibuat pada zaman Panembahan Senopati di Mataram, merupakan penggambaran pada waktu bedah Mangir; Lakon Rajamala, dibuat pada zaman kekuasaaan Senopati di Mataram. Lakon ini pasemon terbunuhnya Arya Penangsang di Jipang Panolan; Lakon Mustakaweni sampai lakon Petruk Dadi Ratu adalah pasemon kehidupan Paku Buwana I di Surakarta; Lakon Gilingwesi (Wrekudara Dadi Ratu) dibuat zaman Paku Buwana II, adalah pasemon bedahnya Keraton Kartasura, lakon Wijanarka ditulis pada zaman Paku Buwana III di Surakarta; adalah pasemon kembalinya Paku Buwana II dari Ponorogo setelah menjadi menantunya Anom Besari; Lakon Suryaputra Maling dibuat pada zaman Paku Buwana III di Surakarta, adalah pasemon Pangeran Singasari menjadi pencuri; lakon Kresna Kembang dicipta pada zaman Paku Buwana IV di Surakarta, merupakan pasemon percintaan Ratu Pembayun dengan Raden Mas Hario Natawijaya.


Dibaca : 984 Kali
Tanggal Posting :
Pengirim :