Matswapati adalah raja Wirata, putra dari raja Basuketi dengan permaisuri Dewi Yekti. Sebelum menjadi raja ia bernama Raden Durgandana dan mempunyai adik bernama Dewi Durgandini. Matswapati memiliki permasuri bernama dewi Rekatawati yang berasal dari narpada Gangga putra begawan Parasara, dari permaisuri ini memperoleh empat orang putra yaitu : Seta, Utara, Wratsangka dan Dewi Utari.
Secara fisik Matswapati berpenampilan luruh, dengan posisi muka tumungkul, bermata kedelen, berhidung pideksa, dan bermulut salitan dengan kumis tebal. Ia bermahkota topong, dengan hiasan turida, jamangsusun, sumping mangkara dengan gelapan utah-utah pendek, mengenakan prada sebagai simbol kekuasaannya rambutnya ngore odol. Badan pideksa dengan ulur-ulur naga mamongsa, kelatbahu naga pangangrang, dan gelang calumpringan. Posisi kaki dengan pocong semeningrat, dengan motif semen jrengut seling gurda. Atribut lainnya sepasang uncal kencana dan memakai keroncong. Umumnya ditampilkan dengan muka berwarna biru muda, dengan badan gembleng.
Dalam perang besar Baratayuda Prabu Matswapati beserta keluarga besar Wirata membantu pihak Panawa yang berada di pihak yang benar. Hal ini dibuktikan dengan keikutsertaan para putra Writa menjadi senapati perang para Pandawa. Para putra Matswapati itu akhirnya habis gugur di medan perang melawan Resi Bisma dalam rangka turut serta menegakkan kebenaran dan mati sebagai pahlawan.
Prabu Matswapati masih memiliki harapan terhadap putrinya Dewi Utari yang menjadi istri Abimanyu yang melahirkan anak laki-laki yang di kemudian hari dikenal dengan nama Parikesit, yaitu raja Astina pasca perang Baratayuda. Prabu Matswapati setelah mengetahui anaknya telah melahirkan dengan selamat, ia rela meninggalkan kehidupan dunia bersama permaisurinya mengasingkan diri untuk bertapa dengan merubah dirinya menjadi seekor ikan emas dan menetap di narpada Gangga.