Jl. Letjen S Parman 35 Yogyakarta -  Telp : 0274- 373427 -  WhatsApp : 082137955032;081333911533 - Pin BBM : 5A21C2F7 -Email : hadisukirno@gmail.com

Artikel Terbaru
Artikel Populer
Kategori Artikel
Wayang Kulit Solo
Wayang Kulit Jogja
Wayang Golek
Wayang Klithik
Souvenir Kulit
Souvenir Kayu
Souvenir Keramik
Souvenir Logam
Souvenir Kain
Handicraft
Souvenir Custom
Souvenir Fiber
Accesories
Souvenir Gelas
Souvenir Anyaman
Gamelan
Alat Musik Tradisional
Pakaian Adat - Tari
Koleksi Hadisukirno
 
 

Prabu Janaka

Raja Mantili yang adil dan bijaksana, sehingga disayang rakyatnya. Prabu Janaka inilah yang memungut anak Dewi Shinta dan kemudian dinikahkan dengan Ramawijaya, putra mahkota kerajaan Ayodya.

Prabu Janaka adalah Raja Mantili yang ketiga. Kedudukan itu diwarisinya dari ayahnya, Prabu Danupati.

Selain Sinta, Prabu Janaka mempunyai seorang putra kandung yang bernama Mayaretna. Meskipun Prabu Janaka mempunyai tiga orang permaisuri, yakni Dewi Sara, Dewi Ratawi dan Dewi Sumerta atau Dewi Sumarata, hanya permaisurinya yang ketiga itulah yang melahirkan anak tunggal. Dalam pewayangan, Mayaretna ini tidak terkenal. Ia tidak pernah tampil sebagai tokoh utama dalam lakon apapun.

Tentang asal-usul Dewi Sinta, ada dua versi. Versi pertama; Sebagai Raja yang selalu memperhatikan kehidupan rakyatnya. Prabu Janaka Senantiasa hadir pada setiap acara dan upacara yang diselenggarakan oleh rakyatnya.

Pada suatu hari, Prabu Janaka memimpin upacara pembajakan sawah pada suatu musim tanam. Ketika Prabu Janaka membajak, tiba-tiba ujung mata bajaknya terantuk sebuah benda keras.

Setelah diperiksa, ternyata mata bajak itu terantuk sebuah kendaga, yakni kotak kayu. Di dalam kotak kayu itu ternyata ada seorang bayi mungil. Bayi perempuan itu kemudian diangkat anak oleh Prabu Janaka dan diberi nama Dewi Shinta. Nama ini diambil dari kata ‘Sinta’. Kata ini dalam bahasa Sansekerta berarti “ ujung mata bajak”.

Dalam kisah lain (pewayangan), karena sudah bertahun-tahun Prabu Janaka tidak  dikaruniai keturunan, raja Mantili itu sering bersamadi di Sanggar Pamujan.

Pada suatu hari Prabu Janaka mendapat wangsit dari Batara Narada, bahwa ia akan mendapat seorang anak  jika bertapa kungkum di sungai Gangga. Petunjuk gaib itu pun dilaksanakannya.

Belum lama ia bertapa kungkum, tubuhnya terantuk sebuah kendaga, peti kayu, yang hanyut di permukaan air. Segera dibukanya kendaga itu. Alangkah gembiranya Prabu Janaka ketika melihat di dalam peti kayu itu terbaring seorang bayi mungil berjenis kelamin perempuan. Bayi itu diselimuti kain sutra bersulam emas, yang menandakan berasal dari kalangan istana. Disamping bayi itu terdapat seuntai kupat sinta, ketupat dengan bentuk khusus.

Dengan hati riang segera bayi itu dibawanya ke istana dan diangkat anak, diberi nama Dewi Shinta. Nama ini diambil dari ketupat Sinta yang ditemukan bersama si Bayi dalam kendaga.

Akhir hidup Prabu janaka diceritakan meninggal secara moksa, tubuhnya juga ikut ke surga.  Oleh para dewa, derajat arwahnya dinaikkan sehingga ia berkedudukan sama dengan dewa. Dalam kedudukan sebagai dewa itu lah, menjelang pecah Baratayuda, Prabu Janaka bertindak sebagai saksi bersama Batara Narada, Batara Rama Bargawa serta Batara Kanwa yang saat itu juga sudah disetarakan kedudukannya dengan dewa, menyertai Prabu Kresna dalam perjalanan ke Astina untuk berunding sebagai duta.


Dibaca : 9812 Kali
Tanggal Posting :
Pengirim :