Dewi Rukmini adalah permaisuri raja Dwarawati yang bernama batara Kresna. Ia adalah putra prabu Rukma raja di negara Kumbina. Perkawinannnya dengan Raja Dwarawati mendapatkan dua orang putri yaitu Saranadewa yang berujud raksasa, karena ketika sedang lambang sari Kresna sedang marah dan berwujud brahala. Putra kedua bernama Partadewa dan seorang putri bernama dewi Titisari yang kemudian hari diperistri oleh Bambang Irawan. Wanda golek.
Dewi Rukmini tergolong tokoh putren berkarakter luruh, mata liyepan, hidung lancip (walimiring), bermulut salitan. Ia bermahkota makuta dengan hiasan jamang sadaseler, sumping mangkara, jaman susun, jamang sulaman, jungkat penatas karawista, drawala dan nyamat serta gelapan utah-utah pendek. Ada penggambaran sinom yang menghiasi dahinya dan memakai rembing. Rambut ngore gendong dengan busana putren yaitu memakai semekan, pinjong dengan motif semenjrengut seling gurda dan kain panjang bermotif klitik. Ia memakai pending terbuat dari emas gingpeng dengan kancing berbentuk ngrangrangan. Atribut lainnya adalah memakai kelatbahu naga pangrangrang, gelar calumprirgan dan binggel sebagai gelang kaki. Tokoh putren mi ditampilkan dengan muka dan badan gembleng yang disebut dengan brongsong. Ketika masih muda dewi Rukmini manjadi idaman para raja dan satria, termasuk sebagai pelamar yang ingin mempersunting putri Kumbia itu, adalah pandita Drona Lamaran itu telah diterima oleh Prabu Rukma, namun sesungguhnya sang dewi tidak menyukai dan mencintai pandita Sokalima itu, sehingga ia berusaha untuk menolaknya. Dalam keadaan cemas karena akan akan kedatangan tunangannya, tiba-tiba muncul cinta sejatinya yaitu raden Narayana (batara Kresna saat muda) dan membawa pergi dewi Rukmini, yang dikemudian hari diperistri dan menjadi permaisuri di negara Dwarawati.