Jl. Letjen S Parman 35 Yogyakarta -  Telp : 0274- 373427 -  WhatsApp : 082137955032;081333911533 - Pin BBM : 5A21C2F7 -Email : hadisukirno@gmail.com

Artikel Terbaru
Artikel Populer
Kategori Artikel
Wayang Kulit Solo
Wayang Kulit Jogja
Wayang Golek
Wayang Klithik
Souvenir Kulit
Souvenir Kayu
Souvenir Keramik
Souvenir Logam
Souvenir Kain
Handicraft
Souvenir Custom
Souvenir Fiber
Accesories
Souvenir Gelas
Souvenir Anyaman
Gamelan
Alat Musik Tradisional
Pakaian Adat - Tari
Koleksi Hadisukirno
 
 

Wayang Cirebon

Wayang Cirebon sebenarnya masih amat serupa dengan Wayang Kulit Purwa. Namun tentu Wayang Kulit Cirebon memiliki cirri yang khas di banding Wayang Kulit Purwa yang lainnya. Ditinjau dari sudut seni kriya, beberapa tokoh wayang Cirebon dibuat cukup jauh berbeda dengan tatahan dan sunggingan Wayang Kulit Purwa. Antara lain, peraga tokoh Prabu Dasamuka pada Wayang Kulit ini dibuat dengan kepala yang benar-benar berjumlah sepuluh, dilihat dari kedua sisi, muka dan belakang.

Untuk tokoh-tokoh wayang yang memakai gelung capit urang, misalnya Arjuna, Samba, ujung gelungnya tidak sampai menyentuh ubun-ubun, jadi bentuk Wayang Kulit Cirebon ini agak mirip dengan Wayang Kulit Bali, tetapi ukuran badannya lebih langsing.

Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Cirebon, yang pada dasarnya merupakan campuran antara bahasa Jawa dan Sunda. Namun, sejak sekitar dekade 1980-an, mulai banyak dalang Wayang Kulit Cirebon yang mencampurkan bahasa Indonesia dengan logat Cirebon dalam dialog-dialog antara peraga wayang.

Cerita dan lakon yang dipergelarkan pada Wayang Kulit Purwa gaya Cirebon ini, sebagian agak jauh berbeda dengan Wayang Kulit Purwa gaya Surakarta atau Yogyakarta. Dalam lakon Babad Alas Amer ( Pada Wayang Kulit Purwa gaya Surakarta atau Yogyakarta lakon ini disebut Babad Alas Wanamarta), misalnya muncul tokoh yang bernama Bambang Bandawasa, Dewi Rara Jonggrang,dsb. Tokoh-tokoh Panakawan pada Wayang Kulit Purwa gaya Cirebon ini juga memiliki beberapa perbedaan dengan Wayang Kulit purwa di daerah Solo atau Yogyakarta.

Sebutan terhadap tokoh-tokoh wayang juga agak berbeda, mmisalnya Batara Guruh untuk Batara Guru, Naga Pracana untuk Kala Pracona, Kala Jenggi untuk Kala Srenggi, dll.

Para budayawan Cirebon umumnya sepakat bahwa Wayang gaya Cirebon bermula dengan kedatangan Sunan Kalijaga yang membawa kesenian Wayang sebagai alat dakwahnya. Kebanyakan orang Cirebon percaya, sebagai dalang waktu itu, Sunan Kalijaga menggunakan nama Ki Dalang Sunan Panggung. Wali ini pula yang memperkenalkan Suluk Malangsumirang, yang merupakan suluk khas Cirebon.

Untuk mengenang jasa sembilan orang wali penyebar agama Islam di Pulau Jawa, pada Wayang Kulit Purwa Cirebon diciptakan Sembilan orang Panakawan. Nama para Panakawan itu adalah Semar, Curis, Bitarota, Cebok, Dawala, Cungkring, Bagong, Bagal Buntung dan Gareng.

Dibanding dengan Wayang Kulit Purwa, dialog-dialog pada Wayang Kulit gaya Cirebon lebih bernafaskan keislaman.

Seni Kriya Wayang Kulit Purwa Cirebon, walaupun sepintas lalu tampak serupa dengan seni Kriya Wayang Kulit dari daerah-daerah lain, sebenarnya memiliki gaya yang khas. Motif pokok tatahan dan ukirannya adalah : tumpengan, kepuhan,wringinanan, prabon, ron jubahan, ron gajah ngulis, sumping jubahan, sumping gajah ngulih, sumping sekar meloki dan wadasan.

Sedangkan seni sunggingannya mengenal beberapa motif pewarnaan, yaitu sekabra, rujak wuni, kembang pari,walang kerik, menyan kobar dan mega mendung.

Dibandingkan dengan Wayang Kulit Purwa gaya Surakarta atau Yogyakarta, Wayang kulit Cirebon mempunyai daerah penyebaran agak terbatas, yakni terutama di daerah-daerah di sekitar Cirebon, antara lain, Kuningan, Indramayu, Kalijati, Subang, Sumedang dan Majalengka, walaupun demikian, seni sungging wayang gaya Cirebon menyebar jauh lebih luas, melalui seni gambar kaca yang diproduksi antara lain oleh seniman Rastika dan pelukis grafis Bahendi.

Sumber : Ensiklopedi Wayang Indonesia


Dibaca : 5523 Kali
Tanggal Posting :
Pengirim :