Seserahan dan peningset dalam adat Jawa adalah dua hal yang berbeda dan juga memilki arti yang berbeda. Meskipun belakangan ini seserahan dan peningset sering disama artikan dan merangkaikan keduanya dalam satu waktu.
Dalam bahasa Jawa, peningset memiki makna pengikat. Jadi ketika calon mempelai pria memberikan peningset kepada calon mempelai wanita, itu memberikan tanda bahwa kedua belah pihak telah sepakat untuk melanjutkan hubungan ke tahap pernikahan. Dengan peningset juga berarti calon mempelai wanita sudah ada yang meminang.
Dalam tradisi Jawa, barang-barang peningset itu terdiri dari pisang sanggan (pisang raja), suruh ayu, benang lawe, seperangkat pakaian lengkap dengan peralatan make-up, sindur (kain berwarna merah dengan garis tepi berwarna putih), nasi golong, kain batik truntum (mengandung arti semoga saling menuntun dan mencintai), berbagai perhiasan (cincin, kalung, gelang dan lainnya), jadah, wajik dan jenang (disimbolkan sebagai perekat hubungan), buah-buahan, dan urip-urip (dilambangkan dengan ayam jantan).
Seserahan merupakan symbol tanggung jawab dari calon mempelai pria kepada pihak keluarga dan orang tua calon pengantin perempuan. Barang-barang seserahan jumlahnya lebih sedikit dibanding barang-barang peningset, meskipun jenis barangnya memiliki banyak kesamaan.
Jumlah dan jenis seserahan disesuiakan atas kesepakatan bersama dengan jumlah yang biasanya ganjil; 3,5,7 9,11 dan seterusnya. Benda-benda seserahan biasanya berupa pisang sanggan, pakaian lengkap, perlengkapan perawatan tubuh dan kosmetik, makanan seperti jadah wajik,kue-kue dan makanan matang serta buah-buahan.