Jl. Letjen S Parman 35 Yogyakarta -  Telp : 0274- 373427 -  WhatsApp : 082137955032;081333911533 - Pin BBM : 5A21C2F7 -Email : hadisukirno@gmail.com

Artikel Terbaru
Artikel Populer
Kategori Artikel
Wayang Kulit Solo
Wayang Kulit Jogja
Wayang Golek
Wayang Klithik
Souvenir Kulit
Souvenir Kayu
Souvenir Keramik
Souvenir Logam
Souvenir Kain
Handicraft
Souvenir Custom
Souvenir Fiber
Accesories
Souvenir Gelas
Souvenir Anyaman
Gamelan
Alat Musik Tradisional
Pakaian Adat - Tari
Koleksi Hadisukirno
 
 

Wayang Kulit Gaya Yogyakarta

Yogyakarta merupakan pusat pemerintahan dan kegiatan kebudayaan, kesenian pada masa dilam, tepatnya setelah kerajaan Mataram dibagi menjadi dua, yaitu Kerajaan Surakarta dan Kerajaan Yogyakarta (Ngayogyakarta Hadiningrat) yang masging-masing mempunyai kedaulayan sendiri-sendiri.

Masjkuri dan Sutrisna Kutaja dalam sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai berikut :
Kerajaan Yogyakarta lahir dari tercapainya perdamaian antara Susuhunam Paku Buwono III dan Pangeran Harya Mangkubumi yang berlangsung pada tanggal 13 Februari 1755 di desa Giyanti daerah Karanganyar Surakarta. Dengan terbaginya kerajaan Mataram menjadi Kerajaan Surakarta dan Kerajaan Yogyakarta, timbullah suasana baru dalam alam kebudayaan dan kesenian di Kerajaan Yogyakarta khususnya.

Bertitik tolak dari sinilah kesenian tumbuh dan berkembang dengan gaya yang baru yaitu gaya Yogyakarta, termasuk juga dalam wayang kulit Purwa. Sedangkan yang dimaksud dengan gaya adalah corak atau langgam yang dalam bahasa Inggris disebut “Style”, dalam Ensiklopedi Indonesia dijelaskan sebagai berikut :

“Sebenarnya gaya berarti sikap pribadi dari seniman terhadap gejala-gejala pernghidupannya. Gaya berarti pula penjelmaan getaran-getaran sukma dan seniman . seniman senantiasa hidup dan berhubungan dengan masyarakat dan massanya oleh sebab itu gaya juga mengungkapkan masyarakat dan masyarakat tersebut.”

Jadi pengertian gaya menurut terminology dalam dunia seni yang memberikan keterangan tentang adanya suatu langgam atau corak tertentu. Sehingga masing-masing dapat dilihat dan dibedakan dengan jelas.

Adanya corak dalam wayang kulit purwa tidak berartidiciptakan oleh seorang saja, tetapi oleh beberapa seniman yang saling menyempurnakan dalam mencapai bentuk wayang yang sempurna. Demikian halnya dengan wayang kulit purwa Yogyakarta, yang tidak lepas dari tokoh-tokoh seniman yang membuat wayang, serta tidak lepas pula dari penguasa (raja) pada waktu wayang tersebut dibuat.

Tokoh-tokoh seniman wayang kulit yang ikut andil dalam mewujudkan Wayang Kulit Purwa gaya Yogyakarta dapat disebutkan sebagai berikut :

  • Ki Jayaprana dengan cawen (guratan ) pada sunggingannya
  • Ki Panatasa menyempurnakan sunggingan dengan menambah jenis sunggingan pada wayang kulit purwa tersebut dengan apa yang disebut Drenjeman
  • Ki Rowong yang menyempurnakan sunggingan itu dengan kembangan-kembangan yang selanjutnya disebut bludiran
  • Ki Grenteng menyempurnakan hasil wayang yang sudah ada dengan menambah jenis sunggingan bercorak sinar, yang biasanya kelihatan seperti payung bila sedang menelungkup. Dalam istilah sungging disebut sungging tlacapan.


Dari kegiatan para seniman wayang (penatah dan penyungging) yang saling menyempurnakan itu mendapatkan suatu hasil yang sempurna pula. Seperti yang dijumpai saat sekarang mengenai wayang kulit purwa Yogyakarta.

Wayang Kulit Purwa gaya Yogyakarta mempunyai corak tertentu yang berbeda dengan wayang gaya lain dan memiliki karakter Yogyakarta.

Adapun ciri khas wayang kulit purwa gaya Yogyakarta, antara lain dapat disebutkan sebagai berikut :

  1. Pada dasarnya wayang kulit purwa gaya Yogyakarta menggambarkan wayang (ringgit) bergerak, yang ditandai dengan posisi kaki yang melangkah lebar atau terutama pada wayang-wayang “Jangkahan”. Sedangkan pada wayang-wayang putren (wayang wanita) hal ini menggambarkan wayang (ringgit) “tancep” (diam) hal ini ditandai dengan adanya “wiron nyamping” (lipatan kain panjang tetap berada di muka).
  2. Bentuk tambun, yang dimaksudkan adalah penggambaran tubuh pendek dan gemuk (“depan”). Pada bagian kepala tampak besar, posisi tubuh menghadap ke muka, dan posisi kaki melangkah lebar. Proporsi bagian-bagian kepala, tubuh dan posisikaki yang demikian ini memberikan kesan “cebol”.
  3. Pada setiap wayang, ukiran yang diterapkan menggunakan pecahan “inten-intenan”.
  4. Sunggingan yang digunakan pada “kanca” atau bagian yang lain, menggunakan sungging tlacapan atau sungging sawutan dan sunggingan cinden dengan menggunakan tiga warna yaitu warna prada (emas), hitam dengan dasar merah. Pada bagian-bagian lainnya ada beberapa yang dihias dengan kembangan terutama bagian yang menggambarkan kain.
  5. Pada umumnya “lemahan” atau bagian yang menghubungkan kaki muka dengan kaki belakang diwarnai dengan warna merah.
  6. Disamping ciri-ciri pokok tersebut di atas, masih ada beberapa ciri-ciri wayang kulit purwa gaya Yogyakarta lainnya, tetapi hanya merupakan bagian-bagian kecil saja, misalnya “sungging ulat-ualatan” pada wayang yang bermuka hitam dengan menggunakan warna merah saja (dengan ulat-ulat templek); “sunggingan drenjeman” yang menggunakan warna hitam saja dan masih ada beberapa yang lain.


Dalam wayang kulit purwa dapat diketahui peran yang digambarkan melalui wajah (muka), posisi kaki serta bagian lain. Tetapi yang paling menentukan adalah pada wajah (muka) yang terutama pada mulut, mata dan hidung.

Sumber : Wayang Kulit Puwa Yogyakarta : Sebuah Tinjauan Tentang Bentuk Ukiran, Sunggingan.
Oleh : Sunarto
Penerbit : Pt Balai Pustaka 1989


Dibaca : 13572 Kali
Tanggal Posting :
Pengirim :