Jl. Letjen S Parman 35 Yogyakarta -  Telp : 0274- 373427 -  WhatsApp : 082137955032;081333911533 - Pin BBM : 5A21C2F7 -Email : hadisukirno@gmail.com

Artikel Terbaru
Artikel Populer
Kategori Artikel
Wayang Kulit Solo
Wayang Kulit Jogja
Wayang Golek
Wayang Klithik
Souvenir Kulit
Souvenir Kayu
Souvenir Keramik
Souvenir Logam
Souvenir Kain
Handicraft
Souvenir Custom
Souvenir Fiber
Accesories
Souvenir Gelas
Souvenir Anyaman
Gamelan
Alat Musik Tradisional
Pakaian Adat - Tari
Koleksi Hadisukirno
 
 

Wayang Gedog

Wayang Gedog bukan mengisahkan cerita Ramayana dan Mahabarata, melainkan mengambil inti cerita Kisah Raden Panji. Dalam wayang itu, kerajaan-kerajaan yang menjadi latar belakang pemerannya antara lain Jenggala, Singasari dan Kediri atau Daha.

Pergelaran Wayang Gedog ini juga lazim dilaksanakan pada malam hari, dengan bahasa Jawa sebagai pengantarnya, Gamelan pengiringnya memakai laras pelog.

Bentuk peraga Wayang Kulit Gedog, mirip sekali dengan Wayang Kulit Purwa. Bentuk sumping, dodot, tangan dan kakinya sama, hanya bentuk sunggingan dan tatahannya yang berbeda. Beberapa tokoh wayang kulit Gedog memakai irah-irahan (tutup kepala) berbentuk tekes, serta kainnya berbentuk rapekan atau dodot, misalnya tokoh Panji Inukertapati. Sementara itu, tokoh putri rambutnya terurai.

Pada Wayang Gedog tidak ada tokoh raksasa dan kera.

Menurut Serat Centini yang menciptakan Wayang Gedog adalah Sunan Ratu Tunggul, zaman kerajaan Demak, dengan candra sengkala : Gaman Naga ing Udipatya. Ini melambangkan angkat tahun saka 1485. Cerita mengenai perjalanan hidup Damarwulan dimasukkan dalam Wayang Gedog oleh Sunan Bonang pada tahun 1488 Saka.

Namun, dalam perkembangannya, Wayang Gedog kurang mendapat sambutan dari masyarakat pecinta wayang, kalah dari Wayang Purwa. Pementasannya amat jarang dilakukan. Hingga akhir abad ke-20, generasi muda sangat kurang akrab dengan jenis wayang ini.

Keraton Kasunanan Surakarta sebenarnya mempunyai perhatian cukup besar dalam usaha pelestarian Wayang Gedog. Beberapa karya seni yang berkaitan dengan wayang gedog lahir berkat prakarsa beberapa bangsawan keraton tersebut.

Pada zaman pemerintahan Paku Buwana IV (1788 – 1820) dibuat beberapa perangkat Wayang Kulit Purwa dan Juga Wayang Gedog. Perangkat Wayang Gedog ini diberi nama Kyai Dewakatong. Selain itu juga disusun sulukan untuk wayang Gedog, yang cakepannya mengambil dari kitab Baratayuda.

Untuk keperluan Wayang Gedog pada zaman itu, dilaksanakan antara lain pada upacara perkawainan putra atau kerabat raja, yaitu pada malam midodareni. Selain itu juga pada upacara selapanan pengantin.

Pada zaman pemerintahan Sunan Paku Buwana X, pergelaran Wayang Gedog tidak lagi hanya pada acara perkawinan, juga pada malam tuguran, yaitu sewaktu raja keluar kota untuk beberapa hari dan pada acara Wiyisan ( hari kelahiran raja ).

Abdi dalem dalang Wayang Gedog pada zaman itu adalah Ki Madyacarita dan Ki Hawicarita.

Pada 1964, konservatori Karawitan Surakarta, mulai menggali kembali Wayang Gedog ini, dan dipergelarkan  dengan lakon Jatipitutur. Dalangnya waktu itu adalah Ki Jagapradangga.

Inilah pertama kalinya Wayang Gedig dipergelarkan di luar keraton.

Kemudian mulai tahun 1974, pakeliran Wayang Gedog dijadikan salah satu mata kuliah di Akademi Seni Karawitan Indonesia ( ASKI ) Surakarta. Sejak itu Wayang Gedog mulai lagi agak sering dipentaskan.

Selain itu Wayang Gedog juga dikembangkan di Pusat Kebudayaan Jawa Tengah. Pada tahun 1970, Instansi ini dua kali seminggu menggarap lakon Srenggi Nimpuna, dengan dalang Ki Madya Pradangga.

Inilah pertama kalinya Wayang Gedog dipergelarkan di luar keraton.

Kemudian mulai tahun 1974, Pakelirrran Waaayaaang Gedog dijadikan salah satu mata kuliah di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta. Sejak itu Wayang Gedig mulai lagi agak sering dipentaskan.

Selain itu Wayang Gedog juga dikembangkan di Pusat Kebudayaan Jawa Tengah. Pada tahun 1970, Instansi ini dua kali seminggu menggarap lakon Srenggi Nimpuna, dengan dalang Ki Madya.

Tahun 1994, Pura Pakualaman di Yogyakarta juga mementaskan Wayang Gedog itu, alam rangka Festival keraton II.

Perbedaan Wayang Gedog dan Wayang Kulit

Secara teknis pedalangan, Wayang Gedog lebih rumit dibandingkan dengan Wayang Kulit Purwa. Dalang Wayang Gedog harus menguasai gending-gending yang digunakan untuk iringan pertunjukkan.

Berikut ini adalah dua diantara beberapa perbedaan antara pakeliran Wayang Gedog dengan Wayang Kulit Purwa.

  • Pada pakeliran Wayang Kulit Purwa, pada jejer pertama, diawali dengan munculnya parekan, Sang Raja dan tokoh-tokoh yang menghadap raja. Sedangkan pada Wayang Gedog yang muncul pertama adalah Patih dan para punggawa, kemudian raja dijemput lewat tokoh Nyi Menggung. Sang patih diiringi punggawa lalu naik ke Sitihinggil diikuti ampil-ampil yang membawa kelengkapan upacara, baru setelah itu sang Raja keluar.

  • Adegan Bancak-Doyok dalam Wayang Gedog setara dengan adegan gara-gara pada Wayang Kulit Purwa. Namun, pada adegan Bancok-Doyok, digunakan iringan pathet manyura pelog yang merupakan peralihan dari pelog patheht nem (tengah malam) ke pelog pathet barang (dini hari).


Lakon-lakon Wayang Gedog :

  1. Jagal Welakas
  2. Jaka Semilir
  3. Jatipilur
  4. Jayasupena
  5. Retnalangen
  6. Priyabada
  7. Wisnu Balik
  8. Jaka Sidik
  9. Jaka Semawung
  10. Perkawinan Gunung Sari
  11. Paniba
  12. Peksi Atata Ijen
  13. Tatasan
  14. Kirana Wayuh
  15. Wulan Tumanggal
  16. Bedahin Bali
  17. Kuda Narawangsa
  18. Gajah Barong Matasanga
  19. Suryamisesa
  20. Lintang Sekti
  21. Jaka Ketanuwan
  22. Panji Grogol Kidang Kencana
  23. Jaka Purnamasidi
  24. Turanggakusuma
  25. Nusakencana
  26. Panji Blonsong
  27. Jaka Panjaring
  28. Andaka Wulung
  29. Sarahwulan
  30. Pani Kirana Murca
  31. Lintang Trenggana
  32. Naga Banda
  33. Resi Kirana
  34. Sinjang Laga Rabi
  35. Kalipawarna
  36. Ngreni
  37. Rarawulan
  38. Jakasumarma
  39. Pandan Surat
  40. Srenggimipuna


Sumber : Ensiklopedi Wayang Indonesia

Jenis-Jenis Wayang Lain :

Wayang Kulit Gagrak Yogyakarta

Wayang Cirebon

Wayang Calon Arang


Dibaca : 8062 Kali
Tanggal Posting :
Pengirim :